Pidato Tentang hubungan Agama & Kesehatan Mental

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

27 September 2016

Pidato Tentang hubungan Agama & Kesehatan Mental

Agama dan kesehatan mental, bagaimanakah kiranya hubungannya? Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa ada hubungan positif antara agama atau keimanan kepada Tuhan terhadap kesehatan. Banyak dari berbagai aktivitas ibadah yang dinilai memiliki korelasi secara positif terhadap kesehatan, lalu bagaimanakah itu? Selengkapnya pidato tentang hubungan agama denga kesehatan mental berikut ini, 

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Hadirin yang berbahagia 

Pada kesempatan kali ini izinkanlah saya menyampaikan sedikit ilmu tentang hubungan agama dengan kesehatan mental. Kesehatan mental berkaitan dengan kesejahteraan jiwa baik dari cara berpikir dan merasa dalam menyikapi kehidupan. Kesehatan mental ini berkaitan dengan bagaimana kita berpikir dan merasa dalam menjalani kehidupan; bagaimana cara kita memandang diri kita sendiri; dan bagaimana cara mengevaluasi berbagai alternative dan mengambil keputusan.

 Banyak hal yang dilakukan manusia untuk mencapai kesehatan mentalnya misalnya bagi mereka yeng terganggu jiwanya sering kali pergi ke psikolog menjadi pilihan. Namun ternyata ada hubungan yang kuat antara agama dengan kesehatan mental. Disinyalir agama menjadi suatu bentuk terapi tersendiri yang membawa manusia pada kedamaian jiwa. Prof. Dr. Moh Surya, salah satu guru besar di Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan bahwa,’’ diakui oleh ahli klinis, psikiater, agamawan dan konselor bahwa agama merupakan factor penting dalam memelihara dan memperbaiki kesehatan mental. Agama memberikan suasana tenang dan damai.

 Dikemukakan oleh Shelley E. Taylor berkaitan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli tentang dampak positif agama atau keimanan pada Tuhan terhadap kesehatan mental kemampuan mengatasi stress, diantaranya adalah: Palaotzian dan Kirkpatrick mengemukakan bahwa agama atau keimanan dapat meningkatkan kesehatan mental dan membantu mengatasi stress. 

Pendapat yang senada dikemukakan oleh Ellison bahwa agama dapat mengembangkan kesehatan psikologis. Orang-orang yang kuat keimanannya pada Tuhan hidupnya lebih bahagia dan lebih sedikit mengalami dampak negative dari peristiwa kehidupan yang traumatic dibandingkan dengan orang-orang yang rendah keimanannya pada Tuhan (tidak melaksanakan ajaran agama). 

Bahkan ahli barat yang terkenal dengan sekulernya (kecenderungan untuk memisahkan agama dan dunia) pun berkeyakinan bahwa agama atau keyakinan pada Tuhan memengaruhi secara positif terhadap kesehatan mental. Al-Quran sendiri sebagai kitab suci umat muslim memiliki ayat-ayat yang menerangkan kaitan agama dan kesehatan mental. Diantaranya adalah:

 Dalam QS. At-Tiin mengisyaratkan bahwa manusia akan mengalami kehidupan yang hina atau jatuh martabatnya termasuk juga kehidupan psikologis yang tidak sehat kecuali orang yang beriman dan beramal saleh (berbuat kebajikan). Senada dengan QS. Surat At-Tiin, dalam surat Al-Ashr dikatakan bahwa,’’ semua manusia merugi (celaka hidupnya, tidak tentram atau perasaan resah dan gelisah) kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh dan saling mewasiati dengan kebenaran dan kesabaran. 

Dalam surat Ar-Rad ayat 28 Allah swt berfirman,’’ yaitu orang-orang yang beriman hatinya menjadi tentram dengan berdzikir kepada Allah. ingatlah hanya dengan berdzikir kepada Allah lah hati menjadi tentram (bahagia). Dalam ayat ini secara gambalang Allah menguraikan bahwa hanya dengan berdzkir atau mengingat Allah lah hati manusia menjadi tenang. Lalu apa saja cakupan dzikir ini?

 Jika dengan berdzikir hati kita menjadi lebih tenang dan damai agaknya kita harus mengurai apa makna dari dzikir ini. Dzikir yang sering dipahami oleh banyak orang adalah mengingat Allah baik itu dengan menegakan shalat, mengucapkan lafadz-lafadz tasbih, membaca Al-Quran dengan berupaya memahami arti dan maknanya, bersikap ihsan dan sebagainya.

 Terdapat berbagai rahasia dari beragam aktivitas dzikir ini, Sentot Haryanto mengemukakan bahwa shalat mengandung aspek-aspek psikologis yang dapat mengembangkan mental yang sehat. Aspek-aspek itu adalah 1) olah raga artinya gerakan-gerakan shalat itu dari takbiratul ihram sampai salam memberikan efek terhadap kesehatan rohaniah dan jasmaniah. 2) aspek relaksasi otot yang menurut ahli dikatakan dapat mengurangi kecemasan dan insomnia (kurang dapat tidur), mengurango hiperaktivitas pada anak, mengurangi toleransi sakit, dan membantu mengurangi merokok bagi yang ingin berhenti merokok; 3) Aspek relaksasi kesadaran indra karena pada saat shalat seseorang seolah-olah terbang ke atas menghadap secara langsung tanpa perantara dan setiap bacaan dimaknai; 4) aspek meditasi yang senilai dengan yoga dan disebut-sebut sebagai meditasi tingkat tinggi bila dijalankan dengan khusyu dan benar; dan masih banyak lagi. Setiap aktivitas ibadah memberikan efek positif, seperti halnya shalat membaca Al-Quran pun memiliki efek positif terhadap kesehatan mental. 

Dikatakan bahwa Al-Quran merupakan obat yang dapat menyembuhkan atau menghilangkan berbagai penyakit manusia. Al-Quran akan manjur dalam mengobati hati manusia jika isi kandungannya dipahami dan diamalkan. 

Hadirin yang berbahagia

 Barang kali tidak ada satu pun ajaran agama yang ditujukan untuk memenjarakan kehidupan manusia melainkan semuanya ditujukan untuk membangun kehidupan yang damai dan bahagia bagi manusia baik secara lahir maupun batin. Dalam setiap perintah agama, dari larangan tidak boleh makan sambil berdiri sampai anjuran shalat memiliki nilai kebaikan dan kesehatan yang sangat bermanfaat bagi manusia. 

Banyak penelitian yang mencoba menguraikan hubungan agama dan sains atau seperti halnya penggalian tafsiran kesehatan secara ilmiah terhadap setiap perintah agama. Misalnya penelitian yang mengingkapkan bagaimana manfaat wudhu terhadap kesehatan atau sunnah Rasulullah yang menganjurkan untuk meminum madu dan sebagainya.

 Secara lengkap agama mengatur manusia dalam setiap aspek kehidupanya dari bidang kesehatan sampai politik. Maka sebesar apapun usaha manusia untuk membelakangi nuraninya dalam menolak ajaran Tuhan, pada akhirnya ia akan menemukan titik buntu. Karena sejatinya setiap mahluk memiliki nurani untuk bermuara kepada-Nya. Barang kali setiap sel dalam tubuh kita membutuhkan suplemen ibadah yang dapat mengantarkanya pada Ia yang menciptakan. Semakin merunduk dan taat manusia kepada Tuhan semakin sehatlah mentalnya. 

Kedekatan pada Tuhan melepaskan manusia dari jeratan penyakit hati yang menjadi pemicu ketidak berfungsian jiwa. Penyakit hati itu diantaranya menyekutukan Allah swt sehingga lebih gandrung berharap pada sesama mahluk yang sama-sama lemahnya, riya atau keinginan untuk dipuji orang lain hingga menjadi begitu sangat tergantung pada penilaian orang lain, menolak perintah dan larangan Allah swt, bersikap munafiq, dengki atau iri hati terhadap kebahagiaan orang lain, sombong atau suka membanggakan diri dan bersikap arogan, kikir, terlalu mencintai dunia dan popularitas dan lain-lain. 

Hadirin yang berbahagia 

Pada hakikatnya manusia lebih cenderung menuju kebaikan sehingga ketidakbaikan dalam hatinya secara langsung dan tidak langsung menimbulkan penyakit yang memicu ketergangguan jiwa. Sebanyak dan sekuat apapun manusia dalam mengingkari nuraninya ia tetap saja ia tak dapat mengelak kebaikan hatinya sehingga kerisauan dan kegelisahan hadir ketika ia bertindak tidak sesuai dengan panggilan nuraninya. Oleh karena itu jalan menuju mental yang sehat adalah dengan mencari kedamaian dan kebahagiaan hati pada jalannya? Apa jalan kedamaian dan kebahagiaan hati? 

Jawabannya adalah tak lain dan tak bukan dengan mengembalikan jawaban dari setiap panggilan nurani menuju sang pemiliki hati yaitu Allah Swt. Kembalikan hati kita pada pemiliknya, kembalikan ia pada jalan yang di ridai sang Pemiliknya dan kembalikan ia sesuai pada fitrahnya untuk selalu menuju Tuhan. Semoga kita dapat menjadi sebaik-baiknya hamba Allah yang mencari kedamaian dan kebahagiaan pada jalan-Nya. 

Dengan kesadaran tentang betapa butuhnya manusia terhadap agama maka bukan tidak mungkin bahwa setiap manusia di bumi mencapai kesehatan mental yang optimal. Dan jangan salahkan jika rumah sakit jiwa dan psikolog tidak dibutuhkan lagi. Barang kali demikianlah yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya mohon dimaklumi dan dimaafkan. Akhir kata semoga bermanfaat dan menginspirasi kita untuk terus enerus mendekatkan diri kepada-Nya. Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tags :