Ceramah Tentang Berhati-hati Terhadap Kemewahan

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Ceramah Tentang Berhati-hati Terhadap Kemewahan

Siapa yang tidak ingin menjadi orang kaya? tentunya kita tidak akan menolak untuk menjadi orang yang kaya apalagi jika kekayaan tersebut dapat kita gunakan untuk berjuang di jalan-Nya. Namun yang menjadi masalah adalah jika manusia terlalu gandrung dengan kekayaan sehingga ia menjadi begitu mencintai dunia dan kemewahan. Tak dapat dipungkiri cinta terhadap kemewahan mejadi pangkal kehancuran. Selengkapnya ceramah tentang berhati-hati terhadap kemewahan berikut ini.

Assalamualaikum Wr Wb.

Para hadirin, ibu-ibu dan bapak-bapak yang berbahagia,

Pertama-tama marilah kita panjatkan dengan penuh kerendahan hati dan keikhlasan yang mendalam, puji syukur kehadirat ilahi dengan penuh kesadaran bahwa Dia telah membalas dosa-dosa yang telah banyak kita lakukan dengan karunia nikmat yang jauh lebih banyak lagi,,

Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan pada junjungan kita, kekasih kita, manusia paling mulia yang pernah ada di dunia, Nabi Muhammad saw. Tentu saja beserta keluarganya yang mulia, para sahabatnya yang agung, serta kita dan para pengikutnya sampai akhir zaman nanti.

 Hadirin yang berbahagia Rasululllah saw. pernah bersabda: Andaikata seorang anak Adam mempunyai satu lembah emas , pasti ia ingin mempunyai dua lembah. Dan tidak ada yang dapat menghentikan kerakusannya kecuali maut. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Hadits lain diriwayatkan Rasulullah saw. bersabda,’’kebinasaan umat ku ada di dalam dua hal, yaitu meninggalkan ilmu dan mengumpulkan harta.

Memang masalah harta yang sering kali identik dengan kemewahan merupakan persoalan serius bagi manusia yang mempunyai cita-cita menjadi abdi Tuhan yang baik. Harta sering kali menjadi ujian dalam proses mengabdi kepada Allah, meskipun tidak dipungkiri bahwa harta dapat dijadikan media terbaik untuk mengabdi kepada Allah. Dalam hal ini seorang ahli hikmah berkata,’’harta itu ibarat ular, mengandung obat sekaligus racun. Bagi seorang yang ahli, tidak ada kesulitan baginya untuk menangkap dan mengeluarkan obat yang terkandung di dalam badannya. Sedangkan bagi orang dungu, bisa ular dapat membuatnya mati.’’

Hadirin Rahimakumullah.

Berbicara tentang harta tentunya berbicara pula tentang kemewahan. Ibnu Khaldun, salah satu tokoh ilmuan muslim mengatakan bahwa,’’ kehidupan mewah akan merusak manusia . kemewahan menanamkan pada diri manusia berbagai macam kejelekan, kebohongan, dan perilaku hidup buruk lainnya. Nilai-nilai agung akan hilang, dan berganti dengan nilai-nilai bejat yang merupakan sinyal kehancuranmenuju kepunahan,’’ (Muqaddimah Ibnu Khaldun, hal 187)

  Sering kali kemewahan begitu menyilaukan mata manusia, sehingga orang berlomba-lomba menjemput kemewahan dengan berbagai cara. Diantaranya dengan cara-cara yang disukai Allah, dan tak jarang denagn cara-cara yang dimurkai-Nya. Fenomena korupsi adalah salah satu fenomena ketika manusia begitu mencintai harta, kekayaan dan kemewahan hingga ia melupakan perihal baik dan buruk serta benar dan salah. Kekayaan dan kemewahan hanyalah salah satu bagian kecil dari keindahan dunia yang begitu kecil jika di bandingkan dengan keindahan kehidupan akhirat.

Rasulullah pernah mengingatkan bahwa ,’’sesungguhnya diantara yang aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarnya kemewahan dan keindahan dunia ini padamu. Barangkali, kekayaan tidak akan menjadi bencana manakala kekayaan tersebut tidak membawa manusia pada kegandrungan terhadap dunia dengan terlalu banyak mencintai kemewahan. Tapi, kehancuran terjadi manakala manusia begitu mencintai kemewahan dan keindahan dunia sehingga melupakan kebaikan dan aturan Tuhan.

Mungkin ada baiknya untuk kita merenungi Firman Allah dalam surat AL-Isra ayat 16 yang isinya menyatakan bahwa,’’ jika kami hendak membinasakan suatu kaum, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu....’’

Hadirin Rahimakumullah

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan kita bisa menjadi muslim yang piawai dalam menggunakan harta di jalan yang di Ridhoi-Nya dan semoga segala yang Ia berikan tidak lantas menjadikan kita lupa diri dan melupakan perintah-Nya. Akhir kata, mungkin cukup sekian dari saya. Segala kebaikan tentunya dari Allah dan segala kekhilafan tentunya datang dari diri saya sendiri. Saya ucapkan mohon maaf dan terima kasih, serta semoa bermanfaat.

Billahi taufiq walhidayah, wassalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ceramah Tentang Berhati-hati Terhadap Kemewahan