Naskah Pidato Tentang Manusia dan Pendidikan

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Naskah Pidato Tentang Manusia dan Pendidikan

Manusia dan pendidikan, ada apakah kaitannya? Seorang ahli berkata bahwa pendidikan membawa manusia dari kondisi apa adanya menuju kondisi seharusnya. Kalimat ini begitu mendalam dan memiliki makna filosofis tentang siapakah manusia dan ke arah manakah ia hidup. Akan lebih baik jika menyimak keseluruhan naskah pidato tentang manusia dan pendidikan berikut ini, Semoga Bermanfaat ! 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Hadirin yang berbahagia 

Pada kesempatan kali ini izinkanlah saya menyampaikan pidato tentang manusia dan pendidikan. Pidato ini berkaitan tentang filosofi keberadaan manusia. Pendidikan mengubah manusia, bahkan secara filosofis manusia yang lahir dalam keadaan belum selesai dan apa adanya akan diberdayakan oleh proses pendidikan. Keadaan manusia yang belum selesai ini menjadi salah satu alasan mengapa pendidikan hadir dan menjadi bagian penting dalam kehidupan, yaitu mengantarkan manusia dari kondisi apa adanya menuju kondisi yang seharusnya. 

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang mengiyakan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan. Setiap manusia di dunia ini lahir dan tumbuh dengan pendidikan meskipun dalam kualitas dan kuantitas yang beragam. Pendidikan yang berasal dari orangtua, sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat merupakan rangkaian proses dalam upaya mengembangkan, mengarahkan dan membentuk manusia menuju kondisi yang seharusnya. 

Lalu barang kali ‘’kondisi seharusnya’’ yang bagaimana yang harus dicapai oleh manusia sebagai pelaku utama pendidikan? 

Seorang ahli berkata bahwa pendidikan adalah tentang tujuan dan fokus. Tujuan dan fokus ini menjadi bagian yang mungkin mendapatkan penafsiran beragam dari setiap orang. Tujuan pendidikan di belahan bumi yang satu dan lainnya pasti berbeda. Bahkan dalam skala yang sederhana pun motif manusia untuk mengenyam pendidikan amat berbeda satu sama lain.

 Ada beragam motif yang mendasari manusia untuk belajar dan menempuh pendidikan tinggi. Diantaranya ada yang memang sungguh-sungguh mencintai ilmu, mengejar karir yang mengagumkan di masa depan, mencapai kedudukan yang tinggi dalam pekerjaan, meraih kemapanan hidup dan sebagainya. Motif-motif ini tak dapat dipungkiri begitu sarat dengan hal-hal yang berbau materi hingga idealisme kita pun tergugah untuk bertanya,’’ apakah tujuan pendidikan hanya untuk menciptakan manusia pengejar materi? Atau apakah kondisi seharusnya manusia yang dituju oleh pendidikan adalah manusia berlabel duniawi? 

Hadirin yang berbahagia 

Kembali kepada ‘’kondisi yang seharusnya’’ tentang kemanakah pendidikan menuju- berkaitan dengan istilah yang disebut dalam filsafat sebagai eksistensi atau keberadaan diri. Eksistensi ini tentang bagaimana manusia menjadi dan berada atau bagaimana sebenarnya manusia harus hidup dan menjalani kehidupannya. Apakah ia sekedar hadir mengisi bumi atau menjadi bernilai? Singkatnya pendidikan menjadi jalan yang paling strategis untuk dilalui dalam upaya mengarahkan manusia menuju eksistensinya. 

Lalu apa eksistensi manusia? Ke arah manakah manusia itu hidup? 

Seorang ahli berkata bahwa ada beragam penafsiran tentang bentuk eksistensi manusia, dalam Paham Kierkegaard eksistensi diri berkaitan dengan suatu kondisi dimana manusia memahami dan menghayati sumber keberadaannya, kehidupan jiwa yang lestari, takdir dan kenyataan bahwa Tuhan itu adalah kekuatan tertinggi yang mutlak (Kartadinata, 2011). Melalui paham Kierkegaard ini barang kali kita mengerti bahwa sejatinya manusia adalah mahluk Tuhan yang keberadaannya begitu bergantung dan butuh untuk mengabdi kepada-Nya. 

Namun ternyata pemahaman eksistensi menurut Kierkegaard ini begitu bersebrangan dengan apa yang di yakini oleh Nietzche bahwa ‘’Tuhan itu mati’’. Bagi Nietzche eksistensi manusia adalah kehendaknya untuk berkuasa dalam kehidupan. Diantaranya adalah kehendaknya untuk menciptakan nilai tanpa pedoman ilahi hingga eksistensi ini mengarahkan kehidupan manusia pada hal-hal yang selalu tampak relatif, kacau dan membingungkan. Dua pemahaman ini mengarahkan kita pada suatu pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya manusia dan kemanakah ia menuju? 

Hadirin yang berbahagia 

 Kenapa bahasan filosofis ini penting untuk diuraikan dalam konteks pendidikan, ? Jawabannya adalah bahwa tidak lain dan tidak bukan manusia merupakan tokoh utama pendidikan. Untuk itu seharusnya pendidikan mampu untuk mengarahkan manusia untuk menjawab pertanyaan,’’siapakah saya dan arah kehidupan mana yang harus saya tuju? 

Pendidikan harus mengantarkan manusia menuju hakikat keberadaannya dimana dalam prosesnya ia harus mengetahui bahwa sejatinya ia adalah mahluk Tuhan yang tidak akan pernah mencapai kebahagiaan tanpa hubungan yang baik kepada-Nya. 

Ilmu pengetahuan sebagai salah satu tembok penyangga pendidikan harus diarahkan kepada pemahaman dan pemaknaan bahwa manusia adalah makhluk yang jiwanya begitu membutuhkan kasih sayang Tuhan, Allah Swt. Dengan ini dapat diketahui bahwa ilmu pengetahuan entah berkonotasi duniawi atau ukhrawi merupakan anak tangga yang mengantarkan manusia pada keimanan terhadap Allah Swt. 

Berkaitan dengan ini tentunya kita tidak lupa bahwa Imam Al-Ghazali pernah mengatakan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan manusia terhadap Allah Swt. Senada dengan ungkapan Imam Al-Ghazali ini, Albert Enstein pun pernah mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sejati mengantarkan manusia pada keimanan sejati. 

Mengetahui hal ini tentunya kita semakin menyadari bahwa sejatinya proses pendidikan harus mengantarkan manusia pada kondisi seharusnya dimana ia menjadi penghamba yang mendayagunakan akal dan nuraninya menuju penghambaan sejati terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 

Hadirin yang berbahagia 

Muara pendidikan adalah membentuk manusia yang tunduk pada Tuhannya dengan keimanan dan ilmu yang mendasarinya. Maka tentunya menjadi ironi jika pendidikan hari ini mencoba melepaskan diri dari campur tangan Tuhan dengan seolah-olah memisahkan ilmu pengetahuan dan agama. Menjadi ironi pula jika orang-orang berbondong-bondong menempuh pendidikan tinggi hanya untuk mengejar materi entah itu bentuknya kekuasaan, gengsi, harta, dan hal-hal duniawi lainnya.

 Lalu secercah kontribusi seperti apa yang dibutuhkan oleh pendidikan Indonesia saat ini?

 Secercah kontribusi ini adalah bahwa siapapun kita sebagai calon pendidik harus siap dan sigap dalam mengemban amanah yang sangat besar untuk mengantarkan dan mendidik jiwa-jiwa manusia menuju hakikat keberadaannya sebagai mahluk Tuhan. Cobalah pahami adakah amanah yang luar biasa beratnya selain profesi pendidik baik guru atau dosen? 

Jika profesi arsitek, designer, chef, dan teknisi hanya menghadapkan manusia pada benda-benda tak hidup maka bagaimanakah dengan pendidik, bukankah profesinya berhadapan dengan manusia dengan setiap keunikan jiwa dan raganya ? 

Secercah kontribusi ini barang kali dapat dilakukan melalui ketulusan kita sebagai pendidik untuk mewariskan percikan-percikan ilmu yang tidak hanya sampai pada tataran intelektual siswa melainkan merasuk ke dalam nuraninya. Sehingga pada prosesnya ilmu yang dimiliki siswa tidak hanya menjadi bagian dari pengetahuannya melainkan kepribadiannya. 

Bagi saya menjadi pendidik adalah profesi yang ingin saya geluti, bahkan mungkin bukan hanya sekedar profesi melainkan sebuah perjuangan untuk menemukan-Nya. Menjadi seorang pendidik akan mempertemukan kita dengan warna-warni manusia yang merupakan manifestasi dari setiap keagungan Ilahi. Manusia dengan segala dinamika dan kompleksitasnya adalah misteri yang melahirkan banyak hikmah dan ilmu pengetahuan yang tak pernah usai. 

Pendidikan indonesia akan bersinar jika setiap pendidiknya mau dan mampu untuk berbagi dan memberikan secercah kontribusi dan harapan bagi banyak orang atau anak didiknya. Secercah kontribusi ini muncul dalam berbagai bentuknya entah itu inspirasi, ketulusan, motivasi dan yang paling utama adalah hikmah. Maka sebenarnya secercah kontribusi yang ingin saya bagi baik di masa ini atau di masa depan adalah bahwa saya ingin menjadi bagian dari mereka yang mengantarkan (siswa/peserta didik) untuk menemukan cara dan tujuan dari proses kehidupan itu sendiri. 

Saya ingin menjadi bagian dari perjalanan kesuksesan hidup peserta didik, baik kesuksesan duniawi maupun ukhrawi. Akhirnya semua kembali pada pertanyaan seberapa cukupkah kita mempersiapkan diri untuk memberikan percikan ilmu yang mampu menjadi rangkaian pintu manusia (siswa/peserta didik) dalam menuju Penciptanya? 

 Karena sosok pendidik mencerminkan pewaris para nabi yang tidak meninggalkan harta dan tahta melainkan ilmu. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Qs. Al-Mujadilah ayat 11) Barang kali demikianlah yang dapat saya sampaikan, kurang dan lebihnya mohon dimaklumi dan dimaafkan, Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh