Naskah Pidato Tentang Guru

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Naskah Pidato Tentang Guru

Guru, keberadaannya merupakan pahlawan bangsa yang memiliki kendali untuk membawa arah kemudi pendidikan. Ditangannya beribu-ribu jiwa tercerahkan dan tercerdaskan, hingga hal ini menjadikannya diberikan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Namun bagaimanakah potret guru di Indonesia saat ini. Selengkapnya naskah pidato  tentang guru berikut ini, Semoga Bermanfaat ! 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Hadirin yang berbahagia

 Pada kesempatan kali ini izinkanlah saya menyampaikan sedikit tentang betapa berartinya guru dalam kehidupan ini. Berbicara tentang guru tentunya berbicara pula tentang pendidikan.Pendidikan sebagai ujung tombak kemajuan bangsa memiliki peran sentral dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan secara berkelanjutan menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak ayal, bangsa yang dikenal maju dan mampu berdiri sendiri adalah mereka yang memprioritaskan pendidikan sebagai agenda utama dalam melangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Sebutlah Kaisar Hirohito, kaisar Jepang yang pada masanya memimpin negerinya dalam menghadapi perang dunia II adalah tokoh bangsa yang begitu memperhatikan dan memprioritaskan pendidikan. Kala itu, ketika negerinya terhantam amuk badai akibat perang dunia II yang melibatkan hancurnya kota hiroshima dan nagasaki, pertanyaan yang justru pertama muncul adalah,’’masih berapakah jumlah guru yang tersisa ?

 Dari sepenggal kisah tersebut tentunya cukup memberi makna bahwa pendidikan adalah prioritas utama untuk membangun bangsa yang maju dan di balik itu ada sosok guru yang memegang kendali arah kemudi pendidikan. Di tengah kecamuk dan kerusakan yang diakibatkan perang dunia II, pertanyaan pertama yang muncul bukanlah tentang seberapa besar kerugian fisik atau seberapa besar anggaran yang harus dikucurkan untuk mengembalikan kehidupan normal warga jepang. Sekali lagi, pertanyaan pertama yang muncul dari tokoh besar Kaisar Hirohito adalah, ’’masih berapakah jumlah guru yang tersisa ? 

Hadirin yang berbahagia 

Dalam konteks apapun dan dimana pun, guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru adalah profesi mulia yang menentukan arah kualitas atau mutu pendidikan dan secara lebih jauh menentukan eksistensi suatu bangsa. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1978 – 1983 pernah bertutur,’’ Tidak gampang untuk bisa mengatakan apa yang membuat suatu bangsa kokoh dan maju. Namun, mudah sekali untuk mengatakan kapan bangsa ini mulai goyah eksistensinya, yaitu bila generasi yang sedang berkuasa melalaikan pendidikan generasi penerusnya, melalui pelecehan terhadap kinerja pengabdi nomor satu di bidang pendidikan, yaitu guru.”

 Profesi guru bukan hanya tentang bercerita atau menyampaikan informasi karena jika demikian tentulah setiap warga negara mampu menjadi guru. Perlu digaris bawahi bahwa guru memiliki peran multiguna sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, motivator, entertainer, dan berperan sebagaisosok yang diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi anak didiknya. 

Sukmadinata (dlm Ibrahim, 2015: 11) memberikan pandangan bahwa,’’tugas utama guru sebagai pendidik adalah membantu mendewasakan anak. Dewasa secara psikologis, sosial dan moral. Berprofesi sebagai guru bukanlah hal yang mudah, profesi ini menghadapkan guru untuk mendidik sosok manusia yang keberadaannya memiliki beragam potensi, prinsip, pembawaan lingkungan, tata nilai, budaya, kepribadian, dan keunikan lainnya. Tak ayal, untuk menjadi guru yang professional (ahli dan terampil)dibutuhkan kecakapan dan keterampilan yang mumpuni, panggilan jiwa sebagai seorang pendidik, memiliki minat dan bakat, karakter, serta pengalaman tertentu yang diperoleh melalui serangkaian program pendidikan dan pelatihan yang profesional. 

Beberapa potret guru di indonesia mengantarkanpada sebuah pemahaman bahwa perlu langkah masif dan berkelanjutan untuk mempersiapkan guru masa depan yang professional.Beberapa persoalan guru yang dihadapi bangsa ini salah satunya adalah rendahnya kualitas guru. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata uji kompetensi guru tahun 2012 yang berada pada angka 44,5 sedangkan standar nilai yang diharapkan berada pada angka 70. 

 Selain itu, keterangan dari Ditjen PMPTK yang mengungkapkan bahwa terdapat beberapa persoalan seperti, guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan (mismatcheded), kualifikasi akademik yang rendah, disparitas kompetensi, dan distribusi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dapat dibuktikan oleh kondisi bahwa Indonesia saat ini masih kekurangan 200.000 tenaga guru (Ditjen PMPTK, 2010). 

Jika dicermati pada berbagai kasus, sebenarnya fenomena yang terjadi bukan kekurangan guru, melainkan distribusi guru yang tidak efektif. Terdapat kecenderungan terkonsentrasinya guru di perkotaan yang menyebabkan kekurangan guru di wilayah pedesaan. Sekitar 76% sekolah di perkotaan mengalami kelebihan guru, sementara 83% sekolah di pelosok dan perdesaan kekurangan guru (Ditjen Dikti, 2010) 

Distribusi guru yang tidak efektif cukup menjadi penyebab banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan (mismatched). Kekurangan guru di wilayah pedesaan memaksa guru untuk mengajarkan beberapa mata pelajaran yang bahkan bukan bidangnya dan kelebihan guru di wilayah perkotaan menyebabkan tidak terpenuhinya jumlah jam mengajar pada beberapa guru yang telah bersertifikat sebagai pendidik. 

Jika esensi pendidikan adalah membangun suasana mendidik untuk mengembangkan potensi siswa, maka yang harus dipertanyakan adalah bagaimana dampak fenomena mismatched tersebut terhadap kualitaspembelajaran di kelas. Mengingat suatu profesi yang dipercayakan kepada yang bukan ahlinya sekurang-kurangnya menyebabkan keraguan dan kesangsian dalam menjalaninya. Pada akhirnya, fenomena mismatched tersebut berpengaruh pada kualitas pendidikan secara nasional. 

Hadirin yang berbahagia 

Bukan hal mudah menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kualitas guru di indonesia. Namun tidaklah mustahil jika upaya tersebut dapat di mulai dengan menyiapkan guru masa depan yang sepenuh hati mengabdi pada profesinya sebagai pendidik dengan senantiasa mengakar pada budaya sendiri dan mampu menghadapi tantangan zaman. 

Langkah pertama, adalah dengan memilih siswa terbaik yang berminat menjadi guru. Jika menengok perekrutan mahasiswa pendidikan guru di Finlandia akan ditemukan bahwa negara dengan sistem pendidikan terbaik tersebut mampu memilih mahasiswa calon guru sekolah dasar dari 20 % lulusan terbaik di sekolah menengah (Sahlberg: 168). 

Hal tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan mengingat budaya di Finlandia memandang guru sebagai profesi prestisius dan mulia yang sejajar dengan dokter, pengacara, dan ekonom, lebih karena sebab-sebab moral daripada kepentingan dan imbalan materi atau karier,’’tulis Pasi Sahlberg dalam bukunya yang berjudul Finisih Lesson.

 Di Indonesia sendiri, profesi guru tentunya menjadi profesi yang di muliakan dalam masyarakat meskipun keberadaannya tidak seprestisius profesi dokter,pengacara, psikolog, arsitek dan lainnya. Tak dapat dipungkiri, lulusan sekolah menengah lebih gandrung untuk mengambil jurusan kedokteran, hukum, psikologi, akuntansi, tehnik dan jurusan lainnya di banding dengan pendidikan guru. 

Bahkan, sering kali muncul opini bahwa mereka yang masuk pendidikan guru adalah mereka yang tidak berhasil masuk dalam jurusan yang diminatinya. Meskipun demikian, peminat pendidikan guru cenderung meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Hal tersebut tentunya memberikan peluang kepada LPTK (Lembaga Pendidikan & Tenaga Kependidikan) untuk memilih lulusan dengan kualitas terbaik. Perlu dipahami bahwa memilih guru yang terbaik harus didasarkan pada kualitas dan kuantitas.
 
 Kualitas yang diprioritaskan dalam memilih calon mahasiswa pendidikan guru seyogianya mengutamakan kualitas akademik yang baik, kepribadian positif, keterampilan interpersonal yang hebat dan komitmen tinggi untuk bekerja sebagai guru di sekolah. Selain itu, perlu di garisbawahi bahwa penerimaan mahasiswa pendidikan guru harus mempertimbangkan jumlah kebutuhan guru di lapangan.

 Langkah kedua, adalah optimalisasi proses pendidikan (pembelajaran) mahasiswa pendidikan guru di bangku perkuliahan. Sekurang-kurangnya pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh guru adalah 1) pengetahuan tentang bidang studi yang akan diajarkan secara mendalam (mastering of contentknowledge), 2) pengetahuan tentang pedagogiek (mastering of paedagogical knowledge), 3) pengetahuan tentang pedagogiek khusus yang mendalam tentang bidang studi yang akan diajarkannya (mastering of paedagogical content knowledge) (Darling-Hammond and Bransford, 2005). Optimalisasi proses pendidikan tersebut dapat diawali dengan menciptakan desain pembelajaran yang berprinsip pada pembelajaran aktif pendidikan tinggi (Active Learning inHigher Education).  Selanjutnya optimalisasi tersebut dapat dikembangkan melalui pelatihan atau kegiatan tertentu yang menunjang keterampilan dan kemampuan mahasiswa pendidikan guru. 

Langkah ketiga, adalah pembinaan karakter melalui pendidikan berasrama mahasiswa pendidikan guru. Kultur asrama memberikan dampak positif bagi pengembangan karakter mahasiswa terutama dalam menanamkan keimanan & ketakwaan pada Tuhan, sikap tanggungjawab, kemandirian, kepedulian sosial, kemampuan dalam bekerja sama, toleransi dan sikap lainnya yang secara esensial mengembangkan potensi manusia sebagai mahluk sosial dan spiritual. 

Asrama sebagai wadah pergaulan sosial menunjang mahasiswa untuk hidup dalam keberagaman dengan sikap saling menghargai. Mahasiswa dari sabang sampai merauke dengan budaya yang beragam akan dipertemukan dalam suatu wadah pergaulan sosial yakni asrama. Hal tersebut tentunya menjadi strategi jitu untuk mendidik mahasiswa pendidikan guru yang memahami budaya nasional. 

Pada akhirnya dari asrama tersebut diharapkan tumbuh sosok-sosok guru yang senantiasa berakar pada budaya bangsanya dengan kesiapan mengabdi sampai pelosok negeri. Pendidikan asrama dapat dioptimalkan dengan kegiatan keagamaan dan kewirausahaan mahasiswa. Program keagamaan dapat mengembangkan kecerdasan spiritual mahasiswa sebagai mahluk spiritual yang bergantung pada Tuhan. Ketergantungan manusia pada Tuhan akan mendorongnya berlaku sesuai tata aturan yang Tuhan tetapkan. Secara lebih jauh, diharapkan tumbuh sosok guru yang berjiwa religius yang senantiasa memegang teguh prinsip kebaikan dan kebenaran melalui komitmen untuk berperilaku sesuai aturan agama yang ditetapkan. 

Selanjutnya adalah pendidikan wirausaha di asrama yang dinilai sebagai strategi tepat untuk mengembangkan kemandirian mahasiswa melalui keterampilan wirausaha. Dilihat dari kaca mata ekonomi, asrama adalah lingkungan hidup mahasiswa dengan beragam kebutuhannya baik kebutuhan pangan maupun sandang. Hal tersebut memberi peluang terbukanya pasar yang menempatkan mahasiswa sebagai konsumen, distributor atau bahkan produsen meskipun dalam skala kecil. 

Langkah keempat, adalah mengembleng ketangguhan, kepekaan sosial, dan karakter mahasiswa pendidikan guru melalui wadah volunteerism atau kesukarelawanan. Langkah tersebut dinilai menunjang mahasiswa untuk dapat memahami realitas sosial dan tantangan yang akan dihadapinya di masa depan. Wadah volunteerism atau kesukarelawanan dapat dilakukan melalui program pendidikan agama di masjid atau mushola sekitar kampus, program mendidik anak jalanan, program mendidik wilayah tertinggal, dan lainnya. 

Ada beberapa mahasiswa yang telah memprakarsai program pendidikan bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan, satu diantaranya adalah Ineu Rahmawati yang menggagas program VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children) sebagai program mendidik anak-anak TKI di Malaysia. Program mendidik yang bersifat sukarela mudah dijumpai di lingkungan kampus, seperti halnya program UDIK (UPI Mendidik), UI Mengajar, dan program pendidikan lainnya yang tersebar di seluruh kampus Indonesia. 

Program-program tersebut meskipun dalam rentang waktu yang cukup singkat dinilai cukup mampu menumbuhkan kepedulian sosial dan kesediaan mengabdi pada pendidikan yang berdasar pada sikap berkorban tanpa pamrih. Wadah volunteerism sangat berguna untuk menumbuhkan sosok guru yang mengabdi pada profesinya dengan semangat berkorban tanpa pamrih. Semangat berkorban tersebut adalah hal yang perlu ditumbuhkan kembali terutama di era global yang sarat dengan kehidupan materialistis. Dr. G.J. Nieuwenhuis pernah berkata bahwa : ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” 

Hadirin yang berbahagia 

Berkaitan dengan guru masa depan maka perspektif yang harus di bangun oleh guru adalah bahwa mereka bukan hanya sekedar pegawai kementrian pendidikan melainkan agen pembelajaran yang membelajarkan siswanya untuk menjadi manusia seutuhnya dengan dimensi duniawi dan ukhrawi yang seimbang. Guru adalah agen pendidik yang mengantarkan siswanya menuju keberadaan manusia yang bereksistensi (learning to be). Sungguh bukan hal mudah untuk menjadi guru terutama guru di masa depan dengan beragam tantangannya. Perlu persiapan dan kematangan untuk menjadi guru masa depan yang ahli dan cakap di bidangnya, memiliki kepribadian positif dan berkarakter, mampu menghadapi tantangan zaman dengan tidak meninggalkan jati diri keindonesiaan, dan mampu berprofesi dengan semangat pengabdian.

 Menyiapkan guru masa depan adalah bentuk investasi pendidikan dalam menggalang kekuatan menuju kemajuan dan kemandirian bangsa. Mengutip tiga formula untuk memajukan sebuah bangsa menurut Komarudin Hidayat,’’Kalau ingin memajukan sebuah bangsa, nomor satu, utamakan pendidikan. Nomor dua, utamakan pendidikan. Nomor tiga, hargailah dan muliakanlah guru. 

Barang kali demikianlah yang dapat saya sampaikan, kurang dan lebihnya mohon dimaklumi dan dimaafkan. Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Naskah Pidato Tentang Guru