Contoh Naskah Pidato Tentang Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Contoh Naskah Pidato Tentang Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Hari ini tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan seolah-olah mengarah pada kehancuran diantaranya dengan boboroknya moral dan karakter manusia. Manaknya korupsi, ketidakjujuran dalam proses pendidikan, masyarakat yang abai terhadap aturan,pemimpin rakyat yang tidak amanah adalah beberapa fenomena yang menunjukan betapa karakter bangsa ini perlu perbaikan. Untuk mengatasi hal ini ada baiknya pendidikan karakter perlu digalakan terutamanya bagi anak usia dini yang berada pada masa efektif pembentukan karakter. Selengkapnya contoh naskah pidato tentang pentingnya pendidikan karakter bagi anak usia dini berikut

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hadirin Rahimakumullah

Pada kesempatan kali ini izinkanlah saya menyampaikan tentang pentingnya pendidikan karakter bagi anak usia dini. Anak usia dini adalah anak-anak yang berusia 0-6 tahun, masa ini merupakan masa efektif untuk mengembangkan karakter manusia. Dasar-dasar kepribadian manusia terbentuk pada masa ini, singkatnya jika masa ini dapat dilalui dengan berhasil maka proses perkembangan selanjutnya berpotensi untuk menuai keberhasilan.

Berkaitan dengan karakter, tentunya kita semua tahu betapa pentingnya karakter itu sendiri. Berita-berita hari ini sering kali membuat hati kita miris. Maraknya kasus korupsi, ketidakjujuran dalam proses pendidikan, masyarakat yang abai terhadap aturan adalah sekelumit gambaran bagaimana karakter bangsa ini sedang mengarah pada kehancuran.

Problema karakter bangsa ini bahkan cukup menjadi perbincangan public bahkan sejak masa sebelumnya. Muchtar Lubis seorang budayawan pernah menggambarkan karakter masyarakat Indonesia dengan amat negatif. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 6 April 1977, Mochtar Lubis mendeskripsikan ciri-ciri umum manusia Indonesia sebagai berikut: munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya.

Mereka yang berkarakter baik adalah mereka yang melakukan kebajikan bukan atas dasar paksaan atau karena takut hukuman melainkan karena mencintai kebaikan itu sendiri. Sekurang-kurangnya karakter melibatkan moral knowing (pengetahuan berbuat baik), moral feeling (keinginan berbuat baik) dan moral action (tindakan baik itu sendiri). Thomas Lickona mengatakan bahwa karakter adalah value in action atau nilai yang terwujud dalam tindakan.

Nilai-nilai tentang kejujuran, kedisiplinan, toleransi, gotong royong, tolong menolong, kerja keras, dan tanggung jawab adalah beberapa nilai yang harus diwujudkan dalam tindakan menuju karakter yang baik. Seyogianya pengetahuan tentang menjadi baik dan menjauhi yang buruk tidak hanya sekedar pengetahuan yang menempel di otak melainkan harus menjadi bagian dari kepribadian itu sendiri.

Hadirin yang Berbahagia

Bukan hal yang mudah untuk menjadi manusia yang berkarakter baik karena keberadaanya melibatkan kerja keras dan proses yang panjang. Karakter baik dibangun sedikit demi sedikit dalam waktu yang tidak sebentar. Perlu kerja keras dan kesiapan hati untuk berbenah menjadi lebih baik. Untuk itu tak aneh jika orang mengatakan bahwa karakter yang baik lebih patut untuk dipuji dibandingkan dengan bakat luar biasa karena hampir semua bakat adalah anugerah sedangkan karakter sendiri ia dibangun dalam waktu yang tidak sebentar dan membutuhkan proses yang penuh dengan kerja keras.

Mengetahui hal ini sedikitnya kita faham bahwa kualitas karakter manusia adalah harga mutlak keberhargaannya. Keberadaan manusia tidak dapat diukur dari apa yang ia pakai atau kendaraan yang ia gunakan. Kualitas manusia tidak ditentukan oleh hal-hal eksternal dari kehidupan manusia itu sendiri, ia tidak ditentukan oleh seberapa besar amanah yang dipikul, atau seberapa tinggi posisinya dalam pekerjaan ataupun seberapa banyaknya kekayaan yang ia miliki. Kualitas keberhargaan manusia ditentukan oleh apa yang kita sebut karakter atau ahlak dan secara lebih jauh adalah ketakwaannya. Bukankah Allah tidak membeda-bedakan hambanya kecuali berdasarkan ketakwaannya?

 Hadirin Yang Berbahagia

 Karakter yang baik laksana emas yang dihasilkan dari proses yang tidak instan, berton-ton tanah dibuang hanya untuk menghasilkan satu ons emas. Keberadaannya tidak seperti halnya cabe yang ketika dimakan akan langsung terasa pedas melainkan seperti sebuah proses untuk menghasilkan emas murni. Maka penghargaan terbaik untuk orang lain akan sangat tepat jika didasarkan pada kualitas pribadi seseorang bukan tentang harta atau jabatan yang dimilikinya. Sekali lagi, karakter yang baik lebih patut untuk diapresiasi dibandingkan hal-hal lainnya yang sifatnya anugerah atau given misalnya kecantikan ataupun ketampanan.

Berkaitan dengan karakter, anak-anak usia dini atau anak yang berusia 0-6 tahun adalah mereka yang sangat tepat untuk mendapatkan pendidikan karakter. Nilai-nilai yang dipandang sangat penting ditanamkan dan diinternalisasikan bagi anak usia dini diantaranya adalah : kecintaan terhadap Tuhan YME, kejujuran, disiplin, toleransi dan cinta damai, percaya diri, kemandirian, tolong menolong, kerjasama, dan gotong royong, hormat dan sopan santun, tanggung jawab, kerja keras, kepemimpinan dan keadilan, kreatif, rendah hati, peduli lingkungan; dan cinta bangsa dan tanah air.

Dalam menanamkan karakter ini peran orangtua dan sekolah amat menentukan perkembangan karakter anak. Anak-anak usia dini memiliki kemampuan meniru yang sangat besar, dengannya setiap tindakan anak adalah apa yang ia tiru dari orangtuanya. Apa yang ia lihat dan ia dengar menjadi acuan untuk bertindak.

Dalam hal ini orangtua menjadi teladan atau role model yang baik dan buruknya akan ditiru oleh anak. Manusia tidak dapat mengajarkan kebaikan dengan memerintah, kebaikan adalah hal yang perlu diupayakan. Jika orangtua menginginkan agar anaknya menjadi orang yang jujur maka sebelum itu orangtua harus menjadi manusia yang jujur terlebih dahulu. Contoh lainnya adalah kita tidak bisa memerintah anak untuk belajar jika kita sendiri malah asyik menonton Tv. Pada intinya ada baiknya agar kita menjadikan diri kita menjadi lebih baik sebelum kita mengharapkan orang lain terutama anak-anak kita menjadi lebih baik.

Hadirin yang berbahagia

Dalam menanamkan karakter, orangtua merupakan pendidik pertama dan utama anak. Orangtua memilki kendali untuk mengarahkan kemudi kemana karakter anak akan dibentuk. Setiap detail tindakan orangtua menjadi hal yang mempengaruhi sikap dan tindakan anak, diantaranya cara berbicara, cara bertindak, cara merespon anak, cara memberikan pujian dan hal-hal lainnya menjadi standar yang membuat anak menjadi tahu apa yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, pantas atau tidak pantas, tepat ataupun keliru dan sebagainya.

Hari ini kita mungkin sering menemukan banyaknya fenomena yang seolah-olah menggambarkan sikap dan perilaku anak-anak yang kurang baik. Diantaranya anak-anak yang melawan terhadap orangtua, anak-anak yang belum dapat bertanggungjawab pada dirinya sendiri, anak-anak yang mencuri dan fenomena lainnya. Hal ini menunjukan bagaimana pendidikan karakter sangat penting dilakukan bagi anak-anak yang memang sedang berada pada masa pembentukan karakter.

Hadirin yang berbahagia

Pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab semua pihak diantaranya adalah kita sebagai manusia dewasa yang terdidik. Beberapa peristiwa akhir-akhir ini diantaranya banyaknya tontonan yang kurang mendidik, kasus kriminal yang melibatkan anak-anak sebagai korban, pelecehan seksual pada anak dan hal lainnya adalah bentuk peristiwa yang berpotensi menggganggu perkembangan kepribadian anak. Untuk itu saatnya kita menjadi bagian dari orang dewasa yang mencintai anak-anak dengan memberikan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak-anak.

Barang kali demikianlah yang dapat saya sampaikan, akhir kata marilah kita bersama-sama saling mengulurkan tangan untuk membangun lingkungan ramah anak yang sarat dengan kenyamanan, kedamaian dan kasih sayang bagi anak-anak. Dalam penyampaian pidato ini saya sangat tahu bahwa tak ada gading yang tak retak, kiranya peribahasa ini yang dapat mengilustrasikan bagaimana penyampaian pidato ini berlangsung. Kurang dan lebihnya semoga dapat dimaklumi dan dimaafkan, Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.