Ceramah Tentang Bahaya Marah

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Ceramah Tentang Bahaya Marah

Siapa yang dalam hidupnya tidak pernah merasa marah? Bias dipastikan bahwa setiap orang di dunia pasti pernah merasakan marah, ada yang mungkin menyikapinya dengan diam ada pula yang mengungkapkan kekesalannya secara tidak wajar. Marah sering kali membuat seseorang tak terkendali sehingga dapat melakukan apa saja yang diinginkan marah pun memiliki bahaya-bahaya tertentu, apa saja ? Selengkapnya ceramah tentang bahaya marah, berikut.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang saya hormati teman-teman dan hadirin semua. Marilah kita bersama – sama panjatkan puja, puji, dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam karena atas berkah, rahmat dan hidayahnya kita semua dapat berkumpul di tepat yang Insya Allah mulia ini Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan ke pada junjungan kita – manusia terbaik sepanjang zaman yakni besar Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Semoga kita semua kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin.

Hadirin Rahimakumullah

Pada kesempatan kali ini izinkanlah saya sedikit mengulas sedikit tentang apa itu marah. Wah, barang kali semua hadirin pasti tahu dan pernah merasakan marah itu sendiri. Marah atau ghadab dikatakan sebagai salah satu penyakit hati yang digerakan oleh nafsu. Meskipun demikian para ahli ilmu berkata bahwa ada marah yang terpuji, ada yang tercela dan juga ada yang terlarang.

Marah yang terpuji terdiri dari dua perkara. Pertama marah dalam mempertahankan diri dari fitnah dan hinaan orang lain. Kedua, marah dalam mempertahankan agama dari serangan musuh. Marah tercela adalah bentuk perkataan keras pada seseorang yang melakukan kesalahan misalnya dalam pekerjaan. Meskipun tercela di harapkan dapat menjadi peringatan bagi orang yang melakukan kesalahan agar tidak mengulangi hal yang serupa. Sedangkan marah yang terlarang adalah marah yang lahir dari sifat sombong dan congkak, hasud dan dengki, atau karena berebut pengaruh dan kedudukan.

Hadirin Rahimakumullah

Bukankah ketika marah kita seolah-olah dikuasai oleh kebencian? Maka ketika marah tak jarang kita tak dapat berpikir jernih. Lalu apa saja bahaya dari salah satu pintu setan ini? Beberapa bahaya dari sifat ghadhab adalah: Yang pertama dari bahaya ghadab adalah merusak keimanan. Rasulullah Saw. Bersabda,’’ Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak madu.’’ (HR. Al-Baihaqi)

Yang kedua adalah mengundang murka Allah di dunia dan laknat Allah di akhirat, karena seorang pemarah akan mudah terjerumus ke dalam rangkaian dosa-dosa yang diakibatkan oleh hati, akal, pikiran dan emosi yang tak terkendali.

Yang ketiga adalah menyulut api kebencian, hasud, dendam, dan permusuhan sekaligus memutuskan tali persaudaraan. Akibatnya kawan bertambah susut, yang benci bertambah banyak, musuh bertambah gembira memperolok-olokan, orang yang dengki bertambah suka mempermainkan, dan kawan-kawan menjadi senang mencemoohkan.

Yang keempat adalah bahwa tak dapat dipungkiri mereka yang sedang marah mukanya menjadi kusut dan tidak enak dipandang. Perkataannya menjadi kotor dan tidak sedap didengar. Apalagi jika sikapnya kasar, tentunya sangat tidak menyenangkan?

Yang kelima adalah mudah terserang penyakit. Diantara penyakit yang sering menghinggapi orang-orang yang marah adalah darah tinggi, stroke dan jantung. Sedangkan secara batiniah marah ini sangat mungkin menjadikan seseorang keras hati dan sombong.

Hadirin Rahimakumullah

Tentunya bukan hal yang mudah untuk mengendalikan amarah, karena kita lebih cenderung untuk ingin meluapkan semua kekesalan yang ada di hati kita dengan marah. Maka dari itu, sangat wajar jika mereka yang berjiwa kuat adalah mereka yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Mereka mampu meredam kobaran emosi dan menguasainya sehingga tidak hilang kendali. Nampaknya perlu proses dan waktu untuk dapat mengendalikan amarah sehingga perbaikan diri setiap waktu adalah hal yang sangat diperlukan.

Saudaraku, Barang kali demikianlah yang dapat saya sampaikan, sungguh yang menyampaikan tidak lebih baik dari yang mendengarkan. Akhir kata semoga bermanfaat dan mohon maaf terhadap setiap kesalahan dan kekurangan ketika penceramahan ini berlangsung.

Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh