Ceramah Berjudul Kebangkrutan Manusia

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Ceramah Berjudul Kebangkrutan Manusia

Apa yang membuat manusia bangkrut, ? harta, kedudukan, istri, ataukah anak-anak? Jika Anda menjawabnya dengan memilih salah satu pilihan tadi, dijamin bahwa jawaban Anda salah. Lalu apa sebenarnya kebangkrutan manusia? Dan mengapa manusia menjadi bangkrut? Untuk lebih jelasnya, simak ceramah berikut tentang kebangkrutan manusia, Semoga Bermanfaat !

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang saya hormati teman-teman dan hadirin semua. Marilah kita bersama – sama panjatkan puja, puji, dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam karena atas berkah, rahmat dan hidayahnya kita semua dapat berkumpul di tepat yang Insya Allah mulia ini Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan ke pada junjungan kita – manusia terbaik sepanjang zaman yakni besar Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Semoga kita semua kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin.

 Hadirin Rahimakumullah

 Allah Berfirman dalam Al-Quran pada surat Al-Qiyamah ayat 36, yang artinya: Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Dan pada surat Thaha ayat 15: Sesungguhnya hari kiamat akan dating dan Aku merahasiakan waktunya agar tiap-tiap di balas denga apa yang di usahakannya.

Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada para sahabat,’’ Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Salah seorang sahabat menjawab,’’ Bagi kami orang yang bangkrut itu adalah orang yang kehilangan harta dan seluruh miliknya.’’ Kata Rasulullah,’’Bukan. Orang yang bangkrut itu ialah orang yang membawa pahala dari seluruh amal salehnya seperti dari puasanya, zakatnya, hajinya, ataupun wakafnya; tetapi ketika pahala-pahala itu akan ditimbang, datanglah orang-orang yang mengadu,’’ Ya Allah dahuu ia pernah menuduhku berbuat sesuatu padahal aku tidak pernah melakukannya. Kemudian Allah menyuruh agar ia membayar orang yang mengadu itu dengan sebagian pahalanya.

Kemudian datang lagi orang lain yang mengadu,’ Ya Allah, ia pernah mengambil hakku dengan sewenang-wenang. Lalu Allah menyuruhnya lagi untuk membayarnya dengan pahala yang dimilikinya kepada orang yang mengadu. Sampai akhirnya seluruh pahala shalat, haji dan puasanya itu, habis dipakai untuk membayar orang-orang yang pernah haknya ia rampas, yang pernah ia sakiti hatinya, ataupun yang pernah ia tuduh tanpa alas an yang benar. Kini tidak ada lagi pahalanya yang tersisa, semuanya telah habis dipakai membayar hutang atas kelakuan zalimnya pada waktu ia hidup di dunia. Sementara itu ternyata orang yang mengadu masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukannya kepada orang itu di dunia dahulu. Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati saudaranya.

Hadirin Rahimakumullah

 Kisah ini menerangkan kita bahwa pada intinya tidak ada hutang yang tidak dibayar, semua kezaliman yang kita lakukan akan dibayar tunai dengan pahal yang kita miliki di akhirat nanti. Itulah mungkin sebabnya Al-Quran dalam surat An-Nisaa ayat 11 mengatakan barangsiapa yang mengerjakan dosa maka sesungguhnya ia mengerjakan (kemudharatan) untuk dirinya sendiri.Pada akhirnya kebaikan dan keburukan entah itu kita lakukan untuk diri kita sendiri atau orang lain akan kembali pada diri kita sendiri kelak.

Dari kisah ini pun kita dapat belajar bahwa kebaikan terhadap Tuhan harus berbanding lurus dengan kebaikan terhadap sesama. Ibadah yang kita lakukan kepada Allah harus menjadi penggerak bagaimana seharusnya kita bersikap kepada sesama manusia. Singkatnya ibadah yang kita lakukan tidak hanya sebatas ritual yang tidak dimaknai sedikit pun sehingga tidak ada korelasi yang positif antara Ibadah dengan ahlak.

Barang kali saatnya kita mulai memaknai setiap bentuk ibadah yang kita lakukan pada-Nya. Shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya merupakan bentuk pengamalan yang harus dimaknai dengan benar. Sehingga diharapkan kita dapat menjadi insan yang lebih baik melalui ibadah yang kita lakukan. Kurang lebihnya mohon dapat dimaklumi dan dimaafkan.

Billahi Taufik Walhidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.