Ceramah Dengan Tema Kebodohan Universal

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Ceramah Dengan Tema Kebodohan Universal

Apa yang paling berharga dalam hidup? mungkin ada yang akan menjawab keluarga, harta, cinta, dan lainnya. Lalau bagaimana dengan waktu? keluarga, harta, cinta dan lainnya apakah masih berharga jika waktu hidup kita habis? Maka menjadi suatu kebodohan universal jika kita menyia-nyiakann apa yang paling berharga dalam hidup yaitu waktu. Selengkapnya tentang ceramah kebodohan universal berikut ini:

Assalamualaikum Wr Wb

Para hadirin, ibu-ibu dan bapak-bapak yang berbahagia,

Pertama-tama marilah kita panjatkan dengan penuh kerendahan hati dan keikhlasan yang mendalam, puji syukur kehadirat ilahi dengan penuh kesadaran bahwa Dia telah membalas dosa-dosa yang telah banyak kita lakukan dengan karunia nikmat yang jauh lebih banyak lagi,

 Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan pada junjungan kita, kekasih kita, manusia paling mulia yang pernah ada di dunia, Nabi Muhammad saw. Tentu saja beserta keluarganya yang mulia, para sahabatnya yang agung, serta kita dan para pengikutnya sampai akhir zaman nanti.

 Ada sebuah ilustrasi menarik yang dapat kita renungkan bersama-sama pada kesempatan ini, karena jangan-jangan akibat kesibukan kita- kita masuk dalam kelompok orang yang merugi, yaitu orang yang membuang percuma sesuatu paling berharga yang dimilikinya. Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitunan., bagaimana pendangan kita?. Patilah kita akan menyayangkannya dan menganggap pemuda itu sebagai seorang yang bodoh.

Sekarang, marilah kita perhatikan diri kita sendiri, jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari sering kali bersikap seperti apa yang dilakukan pemuda itu. Kita acap kali menghabiskan modal yang paling bernilai yang kita miliki, hanya sesuatu yang mungkn tidak berarti.

Apakah modal manusia yang paling bernilai ? Tidak diragukan lagi, itu adalah usia! Bukankah umur merupakan modal yang paling besar bagi manusia? dalam hal ini nabi kita yang mulia pernah bersabda,’ kemuliaan umur dan waktu lebih bernila dibandingkan kemuliaan harta. Bila kita perhatikan dengan cermat, manusia itu pada hakikatnya adalah pengendara di atas punggung usia. Ia menempuh perjalanan hidupnya, melewati hari demi hari, menjauhi dunia dan mendekati kubur. Kadang-kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita berkurang? Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usiannya? Ironisnya lagi, kehilangan usia ini malah kita rayakan dengan sesemarak mungkin. Barang kali inilah satu-satunya kebodohan manusia yang bersifat universal , yaitu merayakan dengan meriah atas kehilangan waktu yang dinilai begitu berharga. padahal semua orang ini mengerti bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak pernah menjadi milik kita lagi.

 Hadirin Rahimakumullah

Ada perkataan perkataan dari seseorang yang bijak yang sangat baik untuk direnungkan, katanya,’’ Aku tidak menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap tenggelamnya matahari yang berarti umurku berkurang, akan tetapi amal shalih ku tidak bertambah. Mengapa kita biarkan umur kita berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti?apakah sudah sedemikian parahnya kebodohan kita sehingga rela menghabiska modal yang paling bernilai. Firman Allah dalam Surah AL-Mukminun ayat 115 dengan tegas mengatakan,’’apakah kamu sekalian mengira bahwa Kami mencipatakan kamu sia-sia dan kepada Kami kamu tidak dikembalikan ?

Hadirin Rahimakumullah

 Demikianlah yang dapat disampaikan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan renungan singkat ini mampu menggugah hati nurani kita, sehingga kita tidak mau lagi membuang-buang umur dengan percuma. Sebuah pepatah mengatakan,’’kuburan akan datang ke setiap orang dengan keceapatan 60 menit per jam tidak peduli sekaya atau sesehat apapun ia sekarang. Kurang lebihnya mohon dapat dimaklumi dan dimaafkan.

Billahi taufik walhidayah wassalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh.