Contoh Khutbah Jumat Tentang Amal Dunia Jadi Ladang Akhirat

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Contoh Khutbah Jumat Tentang Amal Dunia Jadi Ladang Akhirat

Contoh Khutbah Jumat Tentang Amal Dunia Jadi Ladang Akhirat - Kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari mencari keuntungan. Manusia di dunia ini berbondong-bondong untuk mengumpulkan keuntungan atau harta memenuhi kebutuhan. Terkadang untuk itu, manusia lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah. Melupakan untuk beribadah kepada-Nya. Sedangkan kita tahu di dunia ini manusia mempunyai kewajiban untuk mengumpulkan amal untuk bekal diakhirat kelak. hal ini akan dijadikan tema untuk khutbah jumat kali ini.

لْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْداً، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَاراً بِهِ وَتَوْحِيْداً، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً مَزِيْداً
أَمَّا بَعْدُ
أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah.

Menjalani kehidupan dunia dengan segala macam bentuk kesibukannya sangat terlihat wajar. Karena dengan demikian manusia bisa memenuhi semua kebutuhannya. Pekerjaan yang menyita waktu dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari semata-mata untuk mencari nafkah bagi diri dan keluarga. Semua itu masih terlihat biasa, karena tidak sedikit manusia yang melakukan rutinitas demikian.  Yang menjadi permasalahan adalah ketika semua rutinitas itu menguasai hidup kita, menjadikan kita lupa akan kewajiban kita lupa akan beribadah dan beramal. Kesibukan atau rutinitas yang kita jalani sehari-hari baik bekerja atau bermain tidak akan menjauhkan kita dari aktifitas beramal jika semua diniatkan karena Allah SWT. Dengan niat yang baik, apalagi tulus karena Allah, amal kebiasaan kita bernilai ibadah, tanpa mengurangi sedikitpun dari fungsi amal kabiasaan atau rutinitas yang ada. Akan tetapi, sebaliknya, karena lalai dari niat, maka bisa menyebabkan amal ibadah Anda hanya bernilai kebiasaan dan rutinitas semata. Dahulu dinyatakan:

عِبَادَاتُ أَهْلِ الْغَفْلَةِ عَادَاتٌ، وَعَادَاتُ أَهْلِ الْيَقْظَةِ عِبَادَاتٌ

Amal ibadah orang yang lalai hanyalah rutinitas, namun rutinitas orang yang waspada semuanya bernilai ibadah (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah oleh Syaikh Muhamad Ibnu Utsaimin, hlm. 9)

Sebagai contoh sebelum pergi bekerja, niatkan dalam hati mencari nafkah karena Allah. Bertemu dengan teman niatkan untuk memperpanjang silaturahmi. Dan semua kegiatan yang berhubungan dengan rutinitas yang kita jalani niatkan karena Allah. Selain untuk menambah nilai ibadah dalam rutinitas kita, itu pula menjadikan kita lebih waspada dan berhati-hati untuk tidak berbuat dzalim sehingga membuat dosa kita bertambah. Didunia ini kita harusnya berbondong-bondong pula dalam mengumpulkan amal baik untuk ladang kita nanti diakhirat.

Untuk dapat menjadikan setiap aktifitas kita bernilai ibadah, maka terlebih dahulu kita harus mengenali berbagai aktifitas dan niat-niat pada setiap amalan. Para Ulama’ menjelaskan bahwa secara global amalan terbagi menjadi dua :

1. Amalan Yang Tidak Sah Bila Tanpa Niat.
Contoh amalan jenis ini ialah berbagai amal ibadah murni, seperti shalat, puasa, haji, wudhu dan lain sebagainya. Andai Anda melakukan amal ini tanpa disertai dengan niat, niscaya amalan Anda tertolak dan tidak mendapatkan pahala. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ

Tiada (ada) puasa bagi orang yang tidak membulatkan niatnya untuk berpuasa sebelum terbit fajar. [HR. Abu Dâwud, at-Tirmizi dan lainnya]

2. Amalan Yang Sah Walau Tanpa Niat.
Berbagai amal ibadah yang mendatangkan manfaaat bagi pelakunya atau orang lain adalah contoh nyata dari amalan jenis ini. Misalnya menolong orang kesusahan, menyambung tali silaturahmi, sedekah, dan yang serupa. Dan diantara contoh amalan ini ialah amalan dalam bentuk meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam syari’at. Misalnya, bersuci najis, mengembalikan barang rampasan, membayar hutang, dan yang semisal denganya. Bila Anda mengamalkan amalan jenis ini tanpa niat, maka amalan Anda sah alias menggugurkan kewajiban, namun Anda tidak mendapatkan pahala darinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ

الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ