Contoh Pidato Tentang Mengikuti Sunnah Rasul

Butuh Contoh Pidato? atau mau Pintar Pidato? Tema apapun ada disini. Terbaru, lengkap dan terbaik

Contoh Pidato Tentang Mengikuti Sunnah Rasul

Sunnah Rasul maksudnya adalah mengikuti kebiasaan dan prilaku baik dari Nabi Muhammad saw. Nah, untuk lebih memahami dan lebih jelas penjelasan mengenai apa saja Sunnah Rasul yang mesti kita laksanakan terlebih dahulu marilah kita simak bersama contoh pidato tentang mengikuti Sunnah Rasul berikut ini.

Assalamu'alaikum Wr.Wb

(Silahkan Pilih Contoh Mukodimah Pidato yang anda sukai)

Para hadirin yang berbahagia,
Sebagai umat islam tidaklah cukup hanya dengan mengakui adanya Allah dan mengakui jika Muhammad itu utusan Allah. Mengakui adanya Allah dan Rasulullah Muhammad, tetapi tidak mengerjakan tuntunannya, juga dianggap kurang sempurna imannya.

Jadi, orang muslim yang berharap surga kelak di akhirat, tetapi tidak melaksanakan sunah Rasul, maka keinginann itu hanya sia-sia. Artinya, tak mungkin ia mendapatkan syafa'at dari Rasulullah kelak di hari Kiamat.

Setiap orang yang mengakui beriman, maka hendaknya harus mengenal Allah (mengenal Allah dalam tanda kutip); dan harus mengakui keberadaan-Nya. Kemudian menyembahnya. Lalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam Al-Qur'an disebutkan sebuah firman Allah sebagai berikut:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS: Ali Imran Ayat: 31)

Beriman kepada Allah saja belumlah cukup jika tidak menyintai dan mengikuti ajaran Rasulullah saw. Pada surat Ali Imran disinggung bahwa apabila seseorang benar-benar menyintai Allah, maka hendaknya mengikuti tuntunan Rasulullah. Kalau keduanya dapat berjalan dengan baik, maka ia akan mendapatkan rahmat dari Allah, yaitu berupa ampunan atas dosa-dosa yang dilakukannya. Kalau sudah demikian, maka sangat besar kemungkinannya kelak masuk surga.

Para hadirin rahimaukumulloh,
Jika kita berikrar dengan mengucapkan dua kalimat syahadat berarti telah mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Hendaknya ikrar itu janganlah hanya di bibir saja tetapi haruslah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Islam memiliki aturan-aturan dan Allah memberi perintah serta larangan-larangan. Semua itu harus dikerjakan dan dipatuhi. Orang yang mengakui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah, tetapi ia tidak menjalankan ibadah sebagaimana yang dikerjakannya, maka berarti ia melakukan penyimpangan.

Amal ibadah yang kita kerjakan sekarang ini harus sejalan dengan ajaran Rasulullah. Jika menyimpang, berarti bid'ah. Sedangkan bid'ah ialah menambah dan mengurangi hukum sehingga menjadi berdosa bagi pelakunya.

Karena itu segala yang dilarang Rasulullah saw. maka hendaknya kita menjauhinya. Segala yang diperintahkan atau dianjurkan, haruslah kita kerjakan. Ini namanya mengikuti sunah Rasul dan sebagai ahli sunah waljamaah.

Para hadiirn rahimakumulloh,
Dalam Al-Qur'an diterangkan tentang firman Allah yang artinya, "Segala sesuatu yang diberikan Allah kepadamu, maka ambilah dan apa yang dilarang-Nya, maka tinggalkanlah." (QS. 59:7)

Kalimat "sesuatu yang diberikan kepadamu" dalam ayat tersebut mempunyai makna suatu ajaran atau perintah Rasulullah kepada uamt-Nya. Sedangkan kalimat "apa yang dilarangnya" adalah suatu larangan yang tidak boleh untuk dilakukan. Karena itu perintahNya hendaknya kita kerjakan dan laranganNya kita tinggalkan.

Sementara itu ada golongan orang yang bilang, bahwa Muhammad adalah manusia biasa. Dia juga pernah khilaf dan pernah berbuat kesalahan.

Dalam urusan duniawi, Nabi Muhammad adalah manusia biasa seperti kita-kita ini. Bahkan dia orangnya tak pernah bersekolah. Dia dibesarkan dalam keluarga sederhana dan menjadi anak yatim sejak kecil.

Namun dalam urusan syariat Islam, perkara perintah dan larangan yang berkenaan dengan agama, maka Muhammad berperan sebagai Rasulullah. Sebagai utusan Allah. Segala yang dikatakannya bukan karena hawa nafsunya, tetapi berdasarkan firman dan wahyu Allah.

Allah berfirman, "Dan tidaklah ia (Muhammad) berkata menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tidak lain hanyalah wahyu yang disampaikan kepadanya." (QS. 53:3-4).

Hal-hal yang berkenaan dengan hukum atau syara', maka Rasulullah selalu menyampaikan berdasarkan firman (wahyu) Allah. Lebih-lebih jika ada masalah yang tidak dapat diputuskan, maka segera turun firman Allah untuk memberi jalan pemecahan itu. Sehingga setiap ayat Al-Qur'an sebenarnya memiliki Asbabun Nuzul yaitu sebab-sebab turunnya firman Allah tersebut.

Karena itulah Rasulullah adalah sosok manusia yang harus diteladani, ucapan dan perilakunya yang termuat dalam hadis haruslah ditiru oleh setiap muslim. Allah berfirman "Sesungguhnya ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, yakni bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (percaya) akan tibanya yaumil Akhir (Kiamat) dan banyak menyebut nama Allah."

Para hadirin yang saya hormati,
Sesunggunya banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang menerangkan dan menganjurkan agar kita mematuhi Rasulullah Muhammad. Allah menjelaskan bahwa barangsiapa mematuhi Rasul maka berarti mematuhi Allah, hal ini mematuhi makna bahwa seseorang yang mematuhi Rasul maka pasti mematuhi Allah. Akan sia-sia jika seseorang mematuhi Nabi namun syirik menyekutukan Allah, keduanya harus sejalan.

Mematuhi Rasul tidak hanya membanggakan kelebihan-kelebihannya. Namun yang dimaksudkan menyintai ialah melakukan segala tuntunan dan ajarannya dengan penuh kosekuen. Adakalanya orang saking cintanya kepada Rasulullah sehingga timbulah pengkultusan. Menyintai secara berlebih-lebihan sedangkan ajarannya dilupakan. Hal yang demikian ini bukanlah berarti cinta Rasul.

Kita boleh menyintai Rasul. Kita boleh mengagungkannya. Bahkan kita dianjurkan agar memanjatkan shalawat selalu kepada Rasulullah. Namun kita tidak boleh mengkultuskannya. Kita tidak boleh menyembahnya. Sebab mengkultuskan atau menyembah Rasulullah sama artinya dengan syirik. Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah; bukan untuk menyembahnya.

Para hadirin yang berbahagia,
Jika kita mau meneladani sifat-sifat Rasulullah saw. maka tentu akan menjadi manusia yang berakhlak luhur. Perilaku Rasulullah selalu terpuji, disukai teman dan disegani lawan. Semenjak kecil, benih-benih akhlakul karimah sudah dimilikinya. Orang yang paking kita muliakan dan kita hormati adalah Nabi Muhammad saw. Dia lah yang kelak memberi syafa'at, atau pertolongan bagi setiap muslim yang mengalami kesulitan. Yakni kesulitan ketika sudah berada di Yaumil Hisab atau hari perhitungan amal. Bukankah dalam Al-Qur'an diterangkan, " Dan sesunggunya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu Allah (Agama Islam). (QS. 42:52)

Muhammad adalah manusia yang diangkat Allah menjadi Rasul. Dialah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus, memberi penerang dari kegelapan. Ajaranya adalah cahaya kebenaran. Karena itu kita wajib mmenjalankan perinyahnya. Sebab apa yang diperintahkan Rasulullah saw. juga perintah Allah SWT. Barangsiapa yang patut kepada Rasulullah berarti patuh kepada Tuhannya. Siapa yang durhaka kepada Rasullah berarti Pula durhaka kepada Tuhannya. Rasulullah tidak pernah memerinyahkan tentang syariat kecuali berasal dari Allah.

Kemuliaan Nabi Muhammad tidak hanya diagungkan oleh umatnya, tetapi malaikatpun memujinya. Hal itu terbutkti bahwa Allah dan para malaikatNya mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad . Karena itu, hendaknya kitapun mengucapkan shalawat dan salam kepadanya pula.

Oleh sebab itu, sebagai umat muslim yang memegangi ajarannya, maka hendaknya kita mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah, larangan kita tinggalkan dan perintahnya kita lakukan. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan syafa'at dari Nabi Muhammad saw. Nanti di hari kiamat, terutama di Yaumil Hisab. Amin

Bilahit taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Contoh Pidato Tentang Mengikuti Sunnah Rasul